Hukum menggunakan Smiley

Tanya: Assalamu’alaikum. Ustadz,bagaimanakah hukum smiley seperti yang ada di YM? Apakah smiley termasuk gambar yang menyerupai makhluk hidup? Jazakallahu khoiran. (Ikhsan Jaya)

Jawab: 
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Menurut pendapat yang kuat bahwa menggambar mahluk bernyawa dengan menghilangkan sebagian anggota badan, yang orang tidak mungkin hidup tanpanya (seperti menghilangkan dada, perut), dengan tetap menyisakan kepalanya termasuk di dalam larangan menggambar mahluk bernyawa

Ini adalah pendapat sebagian Syafi’iyyah (Lihat Nihayatul Muhtaj 6/375, Asna Al-mathalib wa Hasyiyatuhu 3/226), dan pendapat sebagian Hanabilah zaman sekarang (Lihat Fatawa wa Rasail Syeikh Muhammad bin Ibrahim 1/189-190)
Diantara dalil-dalilnya:

1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

((أتاني جبريل عليه السلام فقال لي أتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون دخلت إلا أنه كان على الباب تماثيل وكان في البيت قرام ستر فيه تماثيل وكان في البيت كلب فمر برأس التمثال الذي في البيت يقطع فيصير كهيئة الشجرة ومر بالستر فليقطع فليجعل منه وسادتين منبوذتين توطآن ومر بالكلب فليخرج)) ففعل رسول الله صلى الله عليه و سلم

 

“Jibril ‘alaihissalam telah datang kepadaku seraya berkata: Aku telah datang kepadamu tadi malam, dan tidaklah menghalangiku untuk masuk (rumah) kecuali karena ada patung di depan pintu, ada tirai yang bergambar (mahluk hidup), dan ada anjing di rumah. Maka hendaklah dipotong kepala patung yang ada di rumah sehingga berbentuk pohon, dan hendaklah tirai tersebut dipotong kemudian dijadikan dua bantal yang dijadikan sandaran, dan hendaknya anjing tersebut dikeluarkan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzy, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

 

Di dalam hadist ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan keberadaan gambar mahluk bernyawa jika dilakukan salah satu dari 2 perkara:
Pertama: Dipotong kepalanya
Kedua: Dihinakan (digunakan untuk perkara-perkara yang tidak ada penghormatan di dalamnya)
Dan bukan dengan cara menghilangkan anggota badan lain (selain kepala) yang orang tidak mungkin hidup tanpanya, seperti menghilangkan dada atau perut

Berkata Syeikh Bin Baz:

 

(( ويستدل بالحديث المذكور أيضا على أن قطع غير الرأس من الصورة كقطع نصفها الأسفل ونحوه لا يكفي ولا يبيح استعمالها ، ولا يزول به المانع من دخول الملائكة ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بهتك الصور ومحوها وأخبر أنها تمنع من دخول الملائكة إلا ما امتهن منها أو قطع رأسه ، فمن ادعى مسوغا لبقاء الصورة في البيت غير هذين الأمرين فعليه الدليل من كتاب الله أو سنة رسوله عليه الصلاة والسلام ))

 

“Hadist di atas dijadikan dalil bahwa memotong selain kepala seperti memotong separuh badan bagian bawah atau yang semisalnya adalah tidak cukup dan tidak boleh menggunakannya, dan ini tetap menjadi penghalang masuknya malaikat (ke dalam rumah), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengoyak gambar dan menghapusnya, dan beliau mengabarkan bahwa hal ini menghalangi malaikat masuk rumah, kecuali gambar yang dihinakan atau dipotong kepalanya. Maka barangsiapa yang memiliki alasan tetap dipajangnya gambar di rumah selain kedua alasan ini maka wajib baginya mendatangkan dalil dari kitabullah dan sunnah RasulNya.” (Majmu’ Fatawa Syeikh Bin Baz 4/219)

 

2. Hadist Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

الصورة الرأس فإذا قُطِع الرأس فلا صورة

 

“Gambar itu kepala, jika dipotong kepala maka tidak ada gambar” (HR. Al-Isma’ili di dalam Mu’jamnya, dari Ibnu ‘Abbas, Dishahihkan Syeikh Al-Albany di Ash-Shahihah 4/554)

Di dalam hadist ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan ada tidaknya kepala sebagai ukuran boleh tidaknya keberadaan gambar mahluk bernyawa. Jika kepalanya ada maka tidak boleh, dan jika kepalanya tidak ada maka boleh.

3. Jangan kita qiyaskan hal ini dengan masalah memotong kepala dan menyisakan badannya karena 2 hal:

Pertama: Kepala ini adalah anggota badan yang paling utama, yang membedakan antara mahluk bernyawa dengan pohon dan benda mati.
Kedua : Badan kalau dipotong kepalanya maka akan seperti bentuk pohon, sebagaimana dalam hadist , akan tetapi kalau kepala dipotong badannya saja maka tetap berbentuk mahluk yang bernyawa.

Berkata Syeikh Bin Baz:

 

ولأن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر أن الصورة إذا قطع رأسها كان باقيها كهيئة الشجرة ، وذلك يدل على أن المسوغ لبقائها خروجها عن شكل ذوات الأرواح ومشابهتها للجمادات ، والصورة إذا قطع أسفلها وبقي رأسها لم تكن بهذه المثابة لبقاء الوجه ، ولأن في الوجه من بديع الخلقة والتصوير ما ليس في بقية البدن ، فلا يجوز قياس غيره عليه عند من عقل عن الله ورسوله مراده . وبذلك يتبين لطالب الحق أن تصوير الرأس وما يليه من الحيوان داخل في التحريم والمنع؛ لأن الأحاديث الصحيحة المتقدمة تعمه

 

“Dan juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa gambar kalau dipotong kepalanya maka sisanya seperti bentuk pohon, ini menunjukkan bahwa alasan kenapa diperbolehkan adalah karena dia bukan lagi berbentuk mahluk yang bernyawa. Dan dia lebih serupa dengan mahluk mati. Dan gambar kalau dipotong bawahnya kemudian tersisa kepalanya maka jadinya bukan seperti itu (tidak berganti menjadi bentuk mahluk mati), dan juga wajah ini di dalamnya ada keindahan penciptaan dan gambar yang tidak ada di anggota badan yang lain. Maka tidak boleh anggota badan diqiyaskan kepada kepala bagi orang yang memahami maksud Allah dan rasulNya. Dengan demikian jelas bagi pencari kebenaran bahwa menggambar kepala mahluk hidup adalah terlarang karena keumuman hadist-hadisy yang shahih” (Majmu’ Fatawa Syeikh Bin Baz 4/219).

Berkata Syeikh Al-Albany rahimahullah:

 

((أن قوله ” حتى تصير كهيئة الشجرة ” ، دليل على أن التغيير الذي يحل به استعمال الصورة ، إنما هو الذي يأتي على معالم الصورة ، فيغيرها حتى تصير على هيئة أخرى مباحة كالشجرة . و عليه فلا يجوز استعمال الصورة و لو كانت بحيث لا تعيش لو كانت حية كما يقول بعض الفقهاء ، لأنها في هذه الحالة لا تزال صورة اسما و حقيقة ، مثل الصور النصفية ، و أمثالها))

 

“ٍٍٍSesungguhnya ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sampai menjadi bentuk pohon” dalil bahwasanya perubahan yang membolehkan penggunaan gambar adalah perubahan pada tanda-tanda (yang menjadikan) gambar (itu hidup) , sehingga menjadi bentuk lain yang diperbolehkan seperti pohon, oleh karenanya tidak boleh menggunakan gambar (mahluk bernyawa) meskipun dia tidak mungkin hidup dengan cara seperti itu, karena dalam keadaan seperti ini dia masih gambar mahluk bernyawa baik nama maupun hakikatnya, seperti foto setengah badan dan yang semisalnya” (Silsilah Al-Ahadist Ash-Shahihah 1/693)

 

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa penggunaan smiley atau icon atau الوجوه التعبيرية (ekspresi wajah) seperti yang ada di YM tidak diperbolehkan. Apalagi terkadang di dalamnya ada hal yang tidak sesuai dengan adab islami.Alhamdulillah, perasaan masih bisa kita ungkapkan dengan kata-kata.
Wallahu a’lam.

Dinukil dari : http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/

Tambahan dari saya sendiri,… kalau terpaksa menggunakan smiley,.. gunakanlah yang bukan menggambarkan makhluk bernyawa,… walaupun cuma kepala… pakailah smiley yang berupa bunga, atau benda-benda mati lainnya….

 
 
 
 
  1.  
    mukrom
    November 1, 2010 pukul 9:05 am | #1
     

    terima kasih atas jawabannya sungguh masuk akal,
    maaf mas mau tanya lagi,

    yang ingin saya tanyakan adalah : bisa engga mas jelasin latar belakang pendidikan ke-agamaan yang mas peroleh itu dari mana saja? (misal dari pesantren apa dari kyai/syekh siapa dan berapa lamanya)
    karena yang sebatas yang saya tahu “ilmu tafsir quran dan hadits” harus di “dasari” dengan ilmu yang memadai (misalnya ilmu bahasa arab untuk menerjemahkan arti dan makna kata per kata)

    bukan bermaksud merendahkan atau menghina atau menyinggung, tapi sebagai bahan pertimbangan kepada orang awam seperti saya ini, sehingga saya yakin dengan argumen yang mas tuliskan pada pertanyaan saya yang lalu dan juga sebagai tanggapan dari pernyataan mas yang berbunyi “Banyak orang yang pinter, gelarnyapun berjubel, itu dalam urusan dunia, tapi dalam hal ilmu agama, banyak juga yang tidak tahu,Terkadang sekalipun tahu, jika ada hadits yang menjelaskan tentang sesuatu, maka yang dikedepankan bukanlah hadits tersebut, tetapi akal mereka, atau hawa nafsu mereka, sehingga hadits atau ayat sekalipun tidak memberikan pengaruh kepada mereka”.

    setidaknya untuk meyakinkan bahwa yang mas sampaikan itu bukan hasil baca buku-buku/kitab-kitab secara otodidak (tanpa guru) apalagi cuma baca kitab-kitab yang sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia.
    maaf sekali lagi, tapi mohon dijawab.

    Artikel yang saya posting disini itu bukan asli tulisan saya,
    saya hanya menukil dari artikel yang ditulis oleh orang-orang yang diakui keilmuannya,
    saya hanya menukil dari tulisan-tulisan para ulama, yang telah menjelaskannya,.
    Dan para ulama hanya menukil dari dalil-dalil yang shahih dari Rasulullah, ataupun dari ayat-ayat alqluran, yang dipahami oleh para sahabat,
    Itu terkait dengan permasalahan agama, karena resikonya sangat berat jika kita menyampaikan agama ini tanpa ilmu,…

    Rasulullah sudah menjelaskan perkara agama ini, para sahabat sudah meriwayatkannya, dan para ulama telah menuliskan di dalam kitab-kitab mereka,..

    Resikonya terlalu berat jika saya menuliskan perkara agama dari otak saya pribadi,… saya masih sangat jauh ilmunya,… kita tinggal menukil dari tulisan-tulisan para ulama, tulisan-tulisan para ahlul ilmu,..

    karena apa, jika saya menuliskan dari kepala saya pribadi, saya tidak sanggup untuk mempertanggungjawabkannya di akherat nanti….

    Jadi intinya, saya hanya menyampaikan yang sudah ada, bukan dari saya pribadi,..

    saya akui, saya ini masih sangat lemah sekali, masih bodoh,..dan masih perlu bimbingan,…

    Tapi saya berusaha dengan sekuat hati untuk memahami agama ini sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat ini…

    bukan ikut organisasi…
    karena itu tidak akan ditanyakan ketika mati…

    Tapi generasi pilihan nabi, sudah jelas dan pasti… karena nabi yang memberi rekomendasi, juga ada dikitab suci,
    silahkan baca surat attaubah ayat 100, coba baca artinya juga…

    mudah-mudahan yang sedikit ini bisa memberikan jawaban buat ukhti…

    Tentang pendidikan saya, saya sekolah SD,Mts, lalu SMEA, trus kerja di jakarta, dan tidak sekolah lagi sampai sekarang, tapi alhamdulillah sekarang saya kerja di pesantren di kota bandung,

    Saya merasakan tentang pelajaran agama yang saya dapatkan sejak bangku SD, MTS, juga SMEA sangatlah minim, jujur, cara wudhu dan shalatpun belum benar mengikuti contoh Rasulullah shalallahu a’laihi wa sallam, itu hingga tahun 2000an…

    Alhamdulillah, saya mulai mengenal islam yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya itu ketika di jakarta, mungkin sekitar tahun 2002 an.. yah memang belum lama, dan saya merasa betapa pendidikan saya selama ini sia-sia dalam mengenal agama islam ini,…

    Karena memang kurikulum agama yang dibuat, bukanlah ajaran yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah,… walaupun tidak semua, tetapi sebagian besarnya telah terkontaminasi dengan pemikiran2 lain,..

    Itu mungkin sekilas pendidikan saya, jika anda ingin bertanya lebih jauh, mungkin bisa via email, atau ym saya di aslibumiayu

     
  2.  
    mukrom
    Oktober 29, 2010 pukul 4:49 pm | #2
     

    mas mau komentar nie: apa pendapat mas tentang dipajangnya gambar KH.Ahmad Dahlan di kelas-kelas sekolah /di tempat-tempat milik organisasi Muhammadiyah?
    Selain itu,ditempat lain, gambar pendiri NU sering terpamapang dipajang pada organisasi mereka?
    Juga gambar presiden dan wakil yang ‘wajib’ ada di kelas/ruang instansi pemerintahan, bahkan -mungkin- diruangan milik MUI sekalipun ada?
    Mereka (para ulama MUI,Muhammadiyah,NU,dll) itu pada kenyataannya membiarkan pemasangan gambar tersebut…kenapa?

    Untuk hukum memajang gambar bernyawa, sudah ada larangan dari Rasulullah, sangat keras hukumannya, dan resikonya berdasarkan hadits Rasulullah:
    “Orang yang paling mendapat siksa pada hari kiamat adalah para pembuat gambar (pelukis)” (HR. Bukhari dan Muslim)

    “Sesungguhnya pemilik gambar ini akan diadzab dan akan dikatakan kepada mereka. Hidupkanlah apa yang telah engkau ciptakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    “Artinya : Malaikat enggan memasuki rumah yang didalamnya terdapat lukisan”.[Hadits Riwayat Al-Bukhari, bab Bada’ul Khalq 3226, Muslim bab Al-Libas 2106]

    saya bawakan juga fatwa ulama:
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum menyimpan gambar atau foto sebagai kenangan ?

    Jawaban.
    Menyimpan gambar atau foto untuk dijadikan sebagai kenangan adalah haram, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa malaikat enggan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar. Hal ini menunjukkan bahwa menyimpan gambar atau foto di dalam rumah hukumnya adalah haram

    Terus kenapa mereka melakukan hal tersebut, itu bukan didasari karena mentaati perintah Rasulullah, lalu mentaati siapa? tanyakan sendiri kepada mereka,

    Yang jelas hal tersebut adalah menyelisihi perintah Rasulullah, terlepas mereka itu adalah ormas islam, atau mui atau lainnya,
    Bukankah panutan kita adalah Rasulullah?
    Dan yang terjaga dari kesalahan adalah Rasulullah?
    Jadi, lebih selamat, kita tidak melakukan apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah

    Apa mereka tidak tahu hadis tentang gambar tersebut? Kurasa tidak, mereka bukan orang awam tentang agama,banyak diantaranya yang ahli hadis dan ahli-ahli agama,bahkan ada yang sampai mendapat gelar profesor di bidang agama islam.. Bukan hanya satu,dua,tiga orang,tapi banyak..

    Banyak orang yang pinter, gelarnyapun berjubel, itu dalam urusan dunia, tapi dalam hal ilmu agama, banyak juga yang tidak tahu,
    Terkadang sekalipun tahu, jika ada hadits yang menjelaskan tentang sesuatu, maka yang dikedepankan bukanlah hadits tersebut, tetapi akal mereka, atau hawa nafsu mereka, sehingga hadits atau ayat sekalipun tidak memberikan pengaruh kepada mereka,
    Contoh yang sangat jelas saja, tentang jilbab, ini sudah jelas hukumnya adalah wajib bagi wanita muslimah,
    ini ada dalam alquran, tapi kita lihat, mungkin istrinya pak haji, atau istrinya profesor, lalu anak perempuan mereka yang sudah baligh, tidak mengenakan jilbab, bahkan sebaliknya, auratnya terbuka,,.. ini salah siapa?
    Apakah pak haji atau pak profesor itu tidak tahu? atau gimana?
    Jawabannya, mungkin tahu, mungkin juga tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, atau…..

    -ini ada lagi pendapatku,yang ingin sekalian ditanyain :
    kalau smiley itu dirubah jadi kata-kata, misalnya : ‘*senyum*’/’*marah*’ seperti pada forum2 aktifis islam,bukankah itu sama dengan menggambarkan keadaan/menyimbolkan keadaan raut muka manusia yang notabene ‘tidak boleh’? bukankah sama saja dengan kalau dilambangkan dengan ‘=)’ untuk senyum atau ‘=(‘ untuk marah pada smiley?

    Tentu tidak sama, antara gambar dan tulisan,

    Kalau penyimbolan ini juga tidak boleh, maka bagaimana dengan penulisan huruf ‘u’ misalnya, yang jika kita lihat sejarahnya, huruf ‘u’ dan ‘o’ itu merupakan hasil penyimbolan dari : ‘keadaan wajah dengan mulut monyong’?’, huruf ‘s’ juga sama, berasal dari suara desis,yang mungkin disimbolkan dengan ular (binatang), kalau penyimbolan memang terlarang, berarti repot ya, menulis tanpa huruf ‘u’, ‘o’ ataupun ‘s’?
    Saya mohon pencerahannya..
    Terima kasih.

    Tentunya berbeda, jika tulisan itu tetap berupa tulisan, tidak berubah atau terkonversi secara otomatis ke smiley,
    wallahu’alam..

    Dan daripada kita tercebur ke dalam masalah syubhat, lebih baik tidak usah menggunakan smiley yang seperti makhluk hidup,
    dan tidak apa-apa juga kan kalau chating tidak menggunakan smiley??

     
  3.  
    zhie
    Juni 2, 2010 pukul 9:36 pm | #3
     

    Blog tentu beda dengan rumah, secara hakiki, tapi pengaruhnya mungkin lebih besar daripada rumah, kalau misalkan kita memajang gambar bernyawa dirumah kita atau memajang foto-foto di album kita, tentu yang melihat itu terbatas, tidak semua orang, tidak seperti blog, yang semua orang bisa membukanya.

    berarti pasang dirumah nggak apa2??? hiks, zhie masih bingung… padahal malaikat nggak masuk rumah kl ada gbr bernyawanya…

    Oh, kurang jelas yah, dirumah saja tidak boleh memajang gambar2 bernyawa, karena menghalangi malaikat rahmat masuk ke dalam rumah,.. dan gambar yang ada dirumah kan dipajang terus menerus? selama gambar itu ada, maka malaikat tidak masuk ke rumah kita,

    nah, kalau di blog, kalau kita sedang membuka gambar tersebut, maka tetap malaikat tidak akan masuk kedalam rumah kita, ketika kita sedang membuka blog tersebut, dan terbuka gambar-gambar yang ada di dalamnya… jadi bukan malaikatnya tidak masuk ke blog kita,.. karena blog bukan rumah, bukankah komputer tersebut ada didalam rumah kita?

    ada tambahan dari saya nih,..
    Kalau di rumah, tidak sembarang orang bisa masuk tanpa seijin penghuni rumah bukan??

    Kalau di blog kan semua pengunjung bebas mengunjungi blog kita,

    Dan kalau di blog itu beda dengan rumah, cuma, pengaruh kepada pengunjung yang membukanya, jika gambar itu adalah gambar yang diharamkan oleh Allah,contohnya gambar wanita, (bukankah kita disuruh oleh Allah untuk menundukkan pandangan terhadap lawan jenis), maka itu menyebabkan orang yang membukanya berdosa, dan kita yang memposting gambar tersebut juga ikut mendapatkan dosa, tanpa mengurangi dosa pengunjung yang membuka gambar tersebut,…

    semakin banyak pengunjung yang membuka gambar tersebut, maka semakin bertambahlah dosa kita yang mempostingnya,… jadi blog kita jadi tabungan dosa bagi kita…. mau?? tentunya kan tidak…

    Mudah-mudahan bisa dipahami,

    Jika belum paham, silahkan anda tanyakan lagi, dengan senang hati saya akan mencarikan jawaban, yang mudah-mudahan bisa anda pahami…

     
  4.  
    meandmyloneliness
    Juni 2, 2010 pukul 2:16 pm | #4
     

    wah, tersesat kemari. ga boleh ya mas? yg ga boleh itu nggambarnya, ato masang gambarnya? kata teman, ada ust. yg membolehkan foto, meski ga boleh dipajang, karena malaikat ga masuk ke rumah yg ada gambar mahluk hidupnya. klo di blog, juga ga boleh ya? apa blog sama kaya rumah?

    Mudah-mudahan tersesatnya bermanfaat,

    Tergantung gambarnya mas, ada gambar yang boleh, ada yang terlarang,
    Yang jadi standar kebenaran adalah bukan kata teman, atau kata ustadz, tapi apa yang disampaikan oleh Rasulullah,

    Jika apa yang disampaikan teman, atau ustadz itu berkesuaian dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, maka kita ambil, jika malah bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah, tentu pendapat teman atau ustadz tersebut kita buang,.. kita pegang apa yang disampaikan oleh Rasulullah..

    Gambar yang tidak boleh dipajang adalah gambar-gambar makhluk yang bernyawa, jadi kalau terpaksa harus memajang, atau menggambar, pajanglah gambar pemandangan alam, atau selainnya, yang disitu tidak ada gambar makhluk bernyawanya… atau kalaupun ada dibuat tidak sempurna, seperti dihilangkan kepalanya, sebagaimana ada hadits yang menyebutkan seperti itu…

    Blog tentu beda dengan rumah, secara hakiki, tapi pengaruhnya mungkin lebih besar daripada rumah, kalau misalkan kita memajang gambar bernyawa dirumah kita atau memajang foto-foto di album kita, tentu yang melihat itu terbatas, tidak semua orang, tidak seperti blog, yang semua orang bisa membukanya.

    Apalagi jika gambar itu gambar yang mengundang dosa, misalkan gambar wanita, tentu blog kita jadi tabungan dosa bagi kita, semakin banyak pengunjung yang membuka blog kita, maka semakin bertambah dosa kita, belum lagi misalkan pengunjung tersebut mengcopy gambar tersebut, lalu diposting di blognya mereka, lalu banyak dikunjungi oleh pengunjung lain, maka kita dapet kebagian dosanya, karena sumber gambar dari kita,… jadi, sungguh kita ngga bisa ngebayangin…. dosa kita akan bertambah besar seiring dengan berjalannya waktu, dan bertambahnya pengunjung yang melihat gambar tersebut,,,

    Beda jika blog kita, kita isi dengan ilmu, maka itu bisa menjadi tabungan pahala bagi kita… semakin banyak pengunjung yang membaca postingan kita, yang menyebarkan ilmu yang benar, semakin banyaklah pahala yang kita raih…

    Jadi , buat pegangan bagi kita, para blogger, jadikanlah blog kita sebagai tabungan pahala bagi kita, bukan malah menjadi tabungan dosa bagi kita…

    Mudah-mudahan bermanfaat…

     
  5.  
    Rachmad
    Mei 9, 2010 pukul 1:22 am | #5
     

    waw..menarik sekali
    saya baru tau nih…

     

    Smiley saja yang menyerupai makhluk hidup dilarang, apalagi gambar wanita, baik yang tidak terbuka auratnya… lebih-lebih yang terbuka….
    Ingat… semua yang kita posting akan dimintai pertanggungjawaban disisi Allah,… jika kita memposting gambar wanita, apalagi yang terbuka auratnya… maka semakin banyak pengunjung yang membuka postingan kita… maka semakin banyak dosa yang kita dapatkan…. lebih berat lagi jika gambar yang kita posting ada yang memposting lagi… maka dosanya jadi berlipat-lipat… tanpa mengurangi dosa orang-orang yang melihat gambar tersebut…

    Makanya… jadikanlah blog kita sebagai tabungan pahala bagi kita, juga bagi orang lain… jangan jadikan blog kita sebagai tabungan dosa… yang semakin hari semakin bertambah banyak….. tidak takutkah anda ketika dicabut nyawanya… dosa anda semakin bertambah dan bertambah karena postingan yang anda buat?

Posted on 18/03/2012, in AsliBumiAyu.wordpress.com, Islam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: